Monday, July 29, 2019

Malioboro Nol Kilometer

Malam itu tanpa ada rencana, tiba-tiba saja saya bersama keluarga kecil saya berempat, parkir di depan stasiun Tugu, lalu kami menyewa sebuah becak bermotor ke Selatan melewati Malioboro dan berhenti di perempatan yang mereka sebut Titik Nol. Es krim kacang hijau berlapis coklat yang sudah sekitar setengah jam yang lalu dibeli, baru dibuka ketika memperoleh tempat duduk di sekitar Titik Nol. Tapi sayangnya sebagian kacang hijau sudah meleleh dan lapisan coklat terlepas, tidak bisa menyatu lagi dengan kacang hijau yang masih menempel pada stick.


Bagi sebagian orang, Jogja mungkin memiliki banyak kenangan. Seperti aku, menaiki becak sepanjang Malioboro dan Kraton rasanya seperti mengenang enam tahun lalu ketika aku dan kangmas DSR masih pacaran. Tapi entah kenapa, malam itu di Titik Nol, dan saat berjalan kaki menelusuri Malioboro, mulai dari Titik Nol kembali hingga Stasiun Tugu, ingatanku tiba-tiba kembali ke masa lalu, jauh sebelum bertemu kangmas DSR.

Teman-teman masa kecilku dulu mungkin mengenal Bapak sebagai seorang yang keras. Perawakannya yang tinggi besar, suaranya yang penuh wibawa, dan termasuk agak jarang tersenyum, membuat sebagian teman-temanku takut dengan Bapak. Bapak memiliki caranya sendiri dalam mendidik anak-anak. Termasuk ketegasannya dalam mengatur waktu bermain anak-anaknya di siang hari, agar di malam harinya dapat belajar dengan maksimal. Bapak juga sering cemas menungguku pulang dari bermain dengan teman-teman. Jika aku pulang kesorean, seringkali kulihat Bapak memasang muka tanpa senyumnya berdiri di pintu depan rumah menungguku pulang.

Tahukah kamu, satu hal yang paling aku takuti bukan semata-mata amarah Bapak. Memang Bapak tidak pernah menyakiti fisik setiap kali marah kepadaku, amarahnya hanya berupa rentetan kata-kata, terkadang umpatan khas Jawa Timur jika menurutnya kelakuanku sudah melewati batas. Yang paling aku takuti adalah jika teman-temanku mendengar aku dimarahi.

Malioboro malam itu masih sangat meriah. Musisi jalanan memainkan angklung dan kolintang, memainkan lagu-lagu dengan irama merdu enak didengar. Pedagang kaki lima masih belum menutup dagangannya, padahal malam sudah mendekati pukul sepuluh.

Ingatanku kembali berkelana, sambil sekali kugendong belakang anak lanang yang mulai kelelahan berjalan kaki. Kembali ke masa-masa kelas 2 SMA, saat aku sebagai pengurus OSIS seksi keterampilan dan kewirausahaan memberikan pengumuman terkait rencana pemasangan majalah dinding edisi Valentine. Saat itu aku memasuki satu kelas yang sedang belajar Agama Islam. Ingat bagaimana Bu Guru Agama alih-alih mendukung kegiatan, malah memberiku ceramah tentang perayaan Valentine bagi umat Islam. Padahal saat itu tidak ada sedikitpun niat untuk menyinggung agama ataupun menodai agama dengan pengadaan mading. Yang kami pikirkan hanya papan mading berhiaskan ornamen berwarna pink berisi puisi, cerita pendek, info faktual, dan ucapan-ucapan kasih sayang kepada orang tua, guru, ataupun teman-teman.

Bagian terburuk adalah ketika mendapat kritik keras di depan siswa sekelas yang bukan kelasku sendiri.

Di Titik Nol Malioboro sesaat tadi, si sulung sangat sedih karena lapisan coklat es krim terlepas dari kacang hijau. Dia menangis ketika diberi penjelasan bahwa coklatnya tidak bisa menempel lagi. Aku yang mulai kesal karena setelah diberi penjelasan si sulung tetap menangis, menaikkan suara sehingga tangisan si sulung semakin kencang. Agaknya dia sangat kecewa. Sejak dari mobil menantikan memakan es krim, tapi aku larang karena es krim stick bisa meleleh dimana-mana dan takut mengotori seisi mobil. Maka dia sudah cukup sabar menunggu hingga kami tiba di Titik Nol dan duduk untuk menikmati es krim.

Ah maafkan mama, sayangku. Kamu mungkin merasa tidak nyaman mendapati beberapa orang melihatmu menangis dan kena marah.

Ketika nangisnya tak kunjung reda, aku tanya "Mas mau apa?" Lalu dia jawab, "mau peluk Mama." Aah.. jika pelukan mama bisa menenangkanmu, mama akan peluk, Nak.

Friday, July 26, 2019

Gaji Delapan Juta

Rame bahas gaji delapan juta, aku jadi inget berapa gaji pertamaku dulu. Pertama kali bekerja dan dibayar, stick to schedule, aku mulai sekitar tahun 2008 sekitar awal semester 7 di Palembang. Kerjanya adalah dateng dari rumah ke rumah untuk ngajar les privat. Siswa pertamaku dulu siswa kelas 4 SD di daerah Kenten. Dari Bukit Besar aku harus naik bus Bukit warna biru, turun di sekitar jalan Jenderal Sudirman, nyambung lagi bus Kenten. Saat turun pun masih harus berjalan kaki sekitar 800 m sebelum sampai ke rumah siswa. Ada sih ojeg, tapi rasanya sayang banget harus merogoh kocek lebih dalam untuk memanggil mamang ojeg. Itu rutin saya lalukan dua kali seminggu. 

Satu lagi siswa privatku rumahnya di sekitar belakang SMA Methodist 1. Sekali pertemuan waktu itu dihargai 40ribu untuk siswa SD dan 50ribu untuk siswa SMA. Jika aku datang sebulan 8 kali, dan dipotong 20% untuk penyalur siswanya, maka gajiku sebulan sekitar 576.000. Merasa unfair? Iya sih, terutama karena harus dipotong 20% oleh penyalur. Tapi sebagai mahasiswa dengan jatah uang bulanan 500-600ribu, gaji segitu udah sangat besar bagiku. 

Pun setelah tamat dan mendapatkan gelar S2, gaji pertamaku tidak jauh dari nominal tersebut. Saya ingat sekali nasihat salah satu dosen yang saat itu sudah menjadi rekan kerjaku, beliau mengingatkan tentang ungkapan lama, yaitu "pengalaman itu mahal harganya". Klise memang, tapi sangat mengena saat itu. "Anggap saja kamu digaji 5 juta, dimana 4 jutanya dipotong untuk membayar pengalaman". Dan Alhamdulillahnya, seiring dengan bertambahnya pengalaman, ungkapan itu menepati janjinya. 

Demikianlah sedikit curahan tentang gaji pertamaku. Menurutku, kalau kamu punya skill yang luar biasa, tidak ada salahnya dengan 'menjual mahal' kemampuanmu itu. Yang salah adalah meminta mahal karena embel-embel almamatermu. Sekian 😁

Monday, July 22, 2019

Integritas

Bicara soal gratisan, aku yang masih lemah iman ini sering banget nget tergoda. Kadang hal-hal yang terasa sepele di dunia, sebenernya gede pertanggungjawabannya di akhirat.

Pekerjaan suamiku, kangmas DSR, memungkinkan ia bertemu banyak orang dengan berbagai kepentingan. Ada yang mudah diajak bekerja sama, ada pula yang diem-diem masih aja cari cara supaya bisa lolos dari aturan. Iming-iming gratisan pun bertebaran. Beberapa kali sampe di rumah, meski aku yakin suamiku sudah berusaha keras menolak.

Tak bisa aku bayangkan kalau aku yang bekerja, mungkin aku udah terjerat dalam tumpukan janji-janji gratisan. Aah Alhamdulillah Kau tempatkan aku di rumah Ya Tuhan..



Kali ini, kupon-kupon yang pernah singgah di rumah harus rela menuju tempat pembuangan sampah. Dalam WA suamiku mengetik, "Besok saya belikan dengan uang yang manis." Aaah so sweet ❤

Semoga tulisan ini sekaligus menjadi pengingat di hari kemudian, agar kita selalu berusaha menegakkan integritas dimanapun berada. Aamiin..