Saturday, September 24, 2016

Awal Sapih

Bisa dibilang hari perdana sapih Danish, karena hari ini Danish betul2 stop asi.. rencana awal sebenernya ngga mau frontal stop asi.. pengennya bertahap.. mulai dari ngurangi frekuensi asi siang hari, stop asi siang hari, sampe akhirnya betul2 stop asi siang malam..

Hari Selasa 20 Sept kemarin sebenernya udah mulai ngurangi asi siang hari.. Selasa-Rabu Danish udh bisa asik main siang hari, sampe akhirnya cuma minta asi pas mau tidur siang.. sebelumnya dia jg udh dikenalin UHT, dan kmrn sempet seneng jg krn dia ambil susu kotak sendiri dan diminum sendiri sampe habis 2 kotak kecil..

Tetiba Rabu sorenya dia panas.. emaknya ngga tega buat lanjutin proses sapih karena si bayik nafsu makannya menurun drastis.. akhirnya Rabu dan Kamis malem hampir ngga putus asi..

Puncaknya Jumat malem.. panasnya Danish udah turun, suhu badannya udah nyaris normal lagi.. aku yang udah kelelahan banget ngasi malem itu (dan jg malem sebelum2nya), karena nyaris tiap satu jam sekali Danish bangun tengah malem dan minta asi.. lamanya ngasi juga nggak cukup 10-15 menit.. kadang sampe aku tertidur hingga kebangun lagi masih diempeng juga.. akhirnya Sabtu dini hari Danish minta asi aku alihkan minum air putih atau susu.. anaknya meronta2 dan nangis minta asi sampe sekitar satu setengah jam.. saat itu asinya emang udah kering karena dimimik terus, jadi menurutku minum air putih atau susu adalah pilihan terbaik.. akhirnya Danish berhasil tidur lagi tanpa asi.. eeh.. sejam kemudian kebangun lagi dan nangis lagi.. tapi ngga selama sebelumnya, kali ini digendong2 sebentar terus tidur..

Siang harinya, mungkin dia udah merasakan kalo merengek2 minta asi bakal useless.. aku juga terus kasih pengertian kalau sekarang Danish sudah besar, dan sudah nggak minum asi lagi.. akhirnya dia lebih sering minta minum air putih.. dan entah kenapa, tetiba dia ngga mau minum susu.. sejak panas kemarin.. tapi melihat kuantitas pipisnya Danish, aku rasa minumnya udah lumayan cukup.. jadi aku lanjutkan proses sapih..

Sapih siang berhasil.. meski anaknya masih agak lemes2 pasca pemulihan demam.. sampe malem ini juga masih aman sapihnya saat diajak foto sambil beli donat di bakery kesenengannya (aslinya bakery kesenengan emaknya 😅)..

Tapiii.. drama minta asi dimulai lagi malem saat perjalanan pulang di dlm mobil. Nyaris goyah emaknya dan pengen ngasih asi. Tapi suami meyakinkan kalau this is it. Sekaranglah waktunya buat sapih. Sesampainya di rumah, Danish digendong2 dan akhirnya tidur.

Berat sih awal sapih gini. Nggak tega, males repot ngadepin rewelnya, nyari2 cara buat bikin si bayik tidur, dan sebagainya. Tapi setiap ibu menyusui pasti mengalaminya. Iya, sooner or later sapih pasti tiba, dan nyaris tidak ada yang lulus sapih mulus tanpa drama. Jadi, emang kudu setrong.

Mama papa love you, anakku.. walaupun mama udah nggak kasih asi, mama sayaaang banget kok sama Danish.. selalu.. tumbuh sehat dan makin pinter ya nak.. 😙😙

Wednesday, July 27, 2016

Sehelai Memori

Jika memang ada, ingin sekali rasanya memiliki sebuah pensieve, ramuan ajaib, serta sehelai rambut yang bisa digunakan untuk menyimpan atau sekedar berjalan-jalan kembali ke masa lalu. Beberapa terasa seperti masih sangat dekat, seolah baru kemarin.

Waktu itu saya dan mahasiswa baru lainnya sedang mengikuti kelas Kalkulus I. Suasanya kelas tampak lengang, sebagian besar mahasiswa hanya menunduk dan hampir tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dosen pengajar. Yang terdengar hanyalah derap sepatu kulit warna hitam sang dosem yang berjalan cepat di depan kelas, lalu ke belakang, lalu kembali lagi ke depan. Sambil terus berbicara dengan penuh semangat, lalu mengulang beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang tidak ada variabel x, y, atau z-nya, tidak juga ada kata limit, turunan, maupun integral. Tidak ada angka.

Sama seperti mahasiswa lain, saat itu saya kesulitan mengikuti arah pembicaraan sang dosen. Seperti sedang menghubung-hubungkan tentang materi yang akan dipelajari, juga memotivasi, juga disertai pertanyaan-pertanyaan singkat yang sepertinya sepele tapi entah kenapa terasa begitu susah dan tidak ada satupun yang menjawab. Tapi saya yakin pasti banyak yang ingin disampaikan sang dosen, hingga suaranya terdengar secepat derap sepatunya saat berjalan di dalam kelas. Sangat bersungguh-sungguh.

***

Lama berselang, di suatu kesempatan berbeda beberapa tahun kemudian. Masih terasa hangatnya tumpukan kertas setelah keluar dari mesin fotokopi. Berpacu dengan waktu yang semakin malam, sementara sidang akhir tinggal menghitung jam. Dengan penuh harap saya hubungi sang dosen agar bersedia ditemui dan membaca hasil kuliah saya selama dua tahun, sebelum diuji keesokan harinya. Akhirnya draft tesis berhasil saya serahkan.

Keesokan harinya sebelum sidang, draft tesis saya telah menjelma penuh catatan dan lipatan-lipatan. Nyaris dari awal sampai akhir section ada catatan dari sang dosen. Kecewa? Tidak! Sama sekali tidak. Dibandingkan dengan euforia lulus sidang dengan nilai A yang diumumkan hari itu juga, catatan-catatan dari sang dosen adalah yang paling berkesan. I don't know why, but that means a lot to me.

***

Bulan-bulan berikutnya saya dapat kesempatan untuk belajar mengajar di beberapa kelas sang dosen. Sementara saya duduk memperhatikan layaknya seorang mahasiswa baru, saya dengar kembali derap sepatu kulitnya. Suasana kelas yg mendadak lengang. Suaranya yang cepat secepat langkah kakinya. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tak satupun mahasiswa mampu menjawab.

Tidak seperti beberapa tahun lalu, kali ini saya lebih paham. Pertanyaan-pertanyaan sang dosen tidak sulit. Mudah dijawab. Dan setiap kali memulai pelajaran selalu disertai dengan kata-kata motivasi yang apik. Mungkin dulu saat sedang menjadi mahasiswa baru saya belum betul-betul terbuka hati dan pikiran untuk dididik. Tapi kali ini saya tahu, he's the real teacher!