Thursday, January 10, 2013

Ujian Kejujuran


Ini adalah semester pertama saya mengajar di sebuah universitas. Seperti biasa, akhir semester selalu diakhiri dengan sebuah ujian akhir. Dan di hari ini, saya mengawas pelaksanaan ujian akhir semester di sebuah kelas yang saya asuh bersama seorang dosen senior yang sudah bertahun-tahun mengasuh matakuliah yang sama. Di awal sebelum ujian berlangsung, sang ibu dosen senior sudah menyampaikan bahwa peserta ujian yang melakukan segala bentuk kecurangan selama ujian berlangsung akan mendapatkan nilai E sebagai konsekuensinya.

Ujian berlangsung tertib dan tenang. Hingga akhirnya, di menit ke-30, pada saat ibu dosen senior meninggalkan ruangan ujian untuk kepentingan lain, saya melihat gerak-gerik mencurigakan seorang mahasiswi yang duduk tiga bangku dari belakang. Berkali-kali dia melihat saya, lalu pada saat saya melihat ke arahnya, dia buru-buru menundukkan kepala.

Saya berjalan ke belakang kelas. Saya amati dari ujung mata kiri, mahasiswi itu terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Saya berdiri di samping barisan, dimana mahasiswi tersebut duduk. Beberapa kali saya memastikan apakah ada kejanggalan. Hingga saya melihat sebuah kertas yang terlihat seperti habis dilipat, yang diselipkan di lembar jawabannya. Saya hampiri, lalu saya meminta ijin untuk melihat apa yang ada di balik lembar jawaban itu. Dan benar saja, ada sebuah kertas yang dia akui ditulis sebelum ujian berlangsung. Katanya hasil belajar semalam.

Setelah saya amati, ternyata kertas tersebut berisi jawaban soal ujian pada matakuliah yang sama yang diujikan di sebuah kelas paralel lain. Beberapa soal memang ada yang sejenis. Kertas itu kemudian saya genggam, dan saya berjalan menjauhi mahasiswi tersebut.

Ini terjadi pertama kalinya selama saya mengawas ujian. Seperti perasaan 'kecolongan'. Kecewa sekali. Saya memang mencoba tidak membuat batasan seperti 'saya dosen dan mahasiswa harus segan pada saya'. Saya selalu menempatkan diri sebagai 'teman belajar' bagi mahasiswa, mengingat usia saya yang tidak terlalu jauh dengan mahasiswa-mahasiswa tersebut. Apakah ini yang mengakibatkan mahasiswa tersebut merasa tidak takut untuk berbuat curang pada saat saya mengawas ujian? Padahal saya beberapa kali berpesan kepada para mahasiswa untuk bertanya dan belajar sebanyak-banyaknya pada saat kuliah maupun di luar kuliah, dan untuk jujur dan mandiri selama evaluasi berlangsung.

Saya bingung apakah kejadian ini akan saya laporkan ke ibu dosen senior tersebut atau tidak. Jika iya, berarti mahasiswi tersebut akan memperoleh nilai E dan tidak lulus. Ah, apa tidak ada cara lain?

Ya, saya harus menasihati mahasiswa saya untuk jujur saat ujian.

Saat berdiri di belakang kelas dan semua mahasiswa membelakangi saya, saya berpesan, "melakukan hal-hal yang benar seharusnya tidak hanya ketika ada yang mengawasi. Ketika tidak ada yang mengawasi pun kita seharusnya tetap melakukan hal-hal yang benar. Itu baru namanya berintegritas."

Dada saya bergetar ketika mengucapkan kalimat tersebut, seakan tidak percaya kalau saya baru saja mengatakan hal serupa. Lalu mata saya mulai berkaca-kaca. Dua-tiga tetes air mata pun jatuh, dan saya berharap tidak ada satupun mahasiswa yang melihat saya mengusap air mata. Sebuah pesan yang juga harus saya ingat baik-baik.

Ketika ibu dosen senior masuk kembali ke kelas, sekedar untuk mengambil tas dan laptopnya yang tadi ditinggal lalu kembali ke kesibukannya yang lain, kertas contekan itu masih saya genggam. Saya memutuskan untuk memaafkan mahasiswi tersebut.

2 comments:

  1. Nice story, Septi....T.T
    dulu temanku juga begitu, dimaafkan oleh seorang dosen senior, sejak saat itu dia tak pernah mencontek lagi....

    ReplyDelete
  2. Iya Nis.. Aku pikir kata-kataku waktu itu cuma sekedar angin lalu bagi mahasiswa-mahasiswaku.. tapi ternyata sekitar sebulan yg lalu, mahasiswi itu SMS dan bilang kalo dia merasa bersalah dan tidak akan mengulangi hal serupa lagi.. syukurlah..

    ReplyDelete