Tuesday, August 6, 2019

Analogi Ritsleting

Suami dan istri dalam sebuah rumah tangga ibarat dua sisi ritsleting. Barisan gigi-gigi besi yang saling berseberangan. Namun mereka dapat bersatu untuk tujuan yang sama. Ketika tidak ada masalah, maka ia dapat membuka dan menutup dengan sempurna. Dapat dipastikan kedua sisi terpaut satu sama lain saling mengunci. Tapi terkadang kedua sisi tidak dapat saling mengunci meskipun kepala ritsleting sudah digerakkan ke arah yang benar.



Lama digunakan dan mungkin pernah menampung beban berat serta banyak, ritsleting tasku tidak dapat menutup dengan sempurna. Ketika rits terbuka hendak ditutup dan kepala rits bergerak ke kanan, sayangnya kedua sisinya tidak saling bertaut sehingga rits tasku tetap terbuka. Tapi aku tidak kehilangan upaya. Aku coba lagi dengan merapatkan kedua sisi rits dan menggerakkan kepala rits perlahan-lahan dan berulang kali. Jika aku beruntung, maka tasku akan menutup dengan sempurna.

Meski demikian, kita tahu persis, bahwa sekuat apapun kita mengupayakan agar rits tetap tertutup, lambat laun akan ada masanya rits tidak dapat menutup lagi apapun itu yang kita lakukan. Barisan gigi-gigi ritsleting itu tidak lagi saling mencengkeram, dan jika saat itu terjadi, maka ritsleting harus diganti...

Monday, July 29, 2019

Malioboro Nol Kilometer

Malam itu tanpa ada rencana, tiba-tiba saja saya bersama keluarga kecil saya berempat, parkir di depan stasiun Tugu, lalu kami menyewa sebuah becak bermotor ke Selatan melewati Malioboro dan berhenti di perempatan yang mereka sebut Titik Nol. Es krim kacang hijau berlapis coklat yang sudah sekitar setengah jam yang lalu dibeli, baru dibuka ketika memperoleh tempat duduk di sekitar Titik Nol. Tapi sayangnya sebagian kacang hijau sudah meleleh dan lapisan coklat terlepas, tidak bisa menyatu lagi dengan kacang hijau yang masih menempel pada stick.


Bagi sebagian orang, Jogja mungkin memiliki banyak kenangan. Seperti aku, menaiki becak sepanjang Malioboro dan Kraton rasanya seperti mengenang enam tahun lalu ketika aku dan kangmas DSR masih pacaran. Tapi entah kenapa, malam itu di Titik Nol, dan saat berjalan kaki menelusuri Malioboro, mulai dari Titik Nol kembali hingga Stasiun Tugu, ingatanku tiba-tiba kembali ke masa lalu, jauh sebelum bertemu kangmas DSR.

Teman-teman masa kecilku dulu mungkin mengenal Bapak sebagai seorang yang keras. Perawakannya yang tinggi besar, suaranya yang penuh wibawa, dan termasuk agak jarang tersenyum, membuat sebagian teman-temanku takut dengan Bapak. Bapak memiliki caranya sendiri dalam mendidik anak-anak. Termasuk ketegasannya dalam mengatur waktu bermain anak-anaknya di siang hari, agar di malam harinya dapat belajar dengan maksimal. Bapak juga sering cemas menungguku pulang dari bermain dengan teman-teman. Jika aku pulang kesorean, seringkali kulihat Bapak memasang muka tanpa senyumnya berdiri di pintu depan rumah menungguku pulang.

Tahukah kamu, satu hal yang paling aku takuti bukan semata-mata amarah Bapak. Memang Bapak tidak pernah menyakiti fisik setiap kali marah kepadaku, amarahnya hanya berupa rentetan kata-kata, terkadang umpatan khas Jawa Timur jika menurutnya kelakuanku sudah melewati batas. Yang paling aku takuti adalah jika teman-temanku mendengar aku dimarahi.

Malioboro malam itu masih sangat meriah. Musisi jalanan memainkan angklung dan kolintang, memainkan lagu-lagu dengan irama merdu enak didengar. Pedagang kaki lima masih belum menutup dagangannya, padahal malam sudah mendekati pukul sepuluh.

Ingatanku kembali berkelana, sambil sekali kugendong belakang anak lanang yang mulai kelelahan berjalan kaki. Kembali ke masa-masa kelas 2 SMA, saat aku sebagai pengurus OSIS seksi keterampilan dan kewirausahaan memberikan pengumuman terkait rencana pemasangan majalah dinding edisi Valentine. Saat itu aku memasuki satu kelas yang sedang belajar Agama Islam. Ingat bagaimana Bu Guru Agama alih-alih mendukung kegiatan, malah memberiku ceramah tentang perayaan Valentine bagi umat Islam. Padahal saat itu tidak ada sedikitpun niat untuk menyinggung agama ataupun menodai agama dengan pengadaan mading. Yang kami pikirkan hanya papan mading berhiaskan ornamen berwarna pink berisi puisi, cerita pendek, info faktual, dan ucapan-ucapan kasih sayang kepada orang tua, guru, ataupun teman-teman.

Bagian terburuk adalah ketika mendapat kritik keras di depan siswa sekelas yang bukan kelasku sendiri.

Di Titik Nol Malioboro sesaat tadi, si sulung sangat sedih karena lapisan coklat es krim terlepas dari kacang hijau. Dia menangis ketika diberi penjelasan bahwa coklatnya tidak bisa menempel lagi. Aku yang mulai kesal karena setelah diberi penjelasan si sulung tetap menangis, menaikkan suara sehingga tangisan si sulung semakin kencang. Agaknya dia sangat kecewa. Sejak dari mobil menantikan memakan es krim, tapi aku larang karena es krim stick bisa meleleh dimana-mana dan takut mengotori seisi mobil. Maka dia sudah cukup sabar menunggu hingga kami tiba di Titik Nol dan duduk untuk menikmati es krim.

Ah maafkan mama, sayangku. Kamu mungkin merasa tidak nyaman mendapati beberapa orang melihatmu menangis dan kena marah.

Ketika nangisnya tak kunjung reda, aku tanya "Mas mau apa?" Lalu dia jawab, "mau peluk Mama." Aah.. jika pelukan mama bisa menenangkanmu, mama akan peluk, Nak.

Friday, July 26, 2019

Gaji Delapan Juta

Rame bahas gaji delapan juta, aku jadi inget berapa gaji pertamaku dulu. Pertama kali bekerja dan dibayar, stick to schedule, aku mulai sekitar tahun 2008 sekitar awal semester 7 di Palembang. Kerjanya adalah dateng dari rumah ke rumah untuk ngajar les privat. Siswa pertamaku dulu siswa kelas 4 SD di daerah Kenten. Dari Bukit Besar aku harus naik bus Bukit warna biru, turun di sekitar jalan Jenderal Sudirman, nyambung lagi bus Kenten. Saat turun pun masih harus berjalan kaki sekitar 800 m sebelum sampai ke rumah siswa. Ada sih ojeg, tapi rasanya sayang banget harus merogoh kocek lebih dalam untuk memanggil mamang ojeg. Itu rutin saya lalukan dua kali seminggu. 

Satu lagi siswa privatku rumahnya di sekitar belakang SMA Methodist 1. Sekali pertemuan waktu itu dihargai 40ribu untuk siswa SD dan 50ribu untuk siswa SMA. Jika aku datang sebulan 8 kali, dan dipotong 20% untuk penyalur siswanya, maka gajiku sebulan sekitar 576.000. Merasa unfair? Iya sih, terutama karena harus dipotong 20% oleh penyalur. Tapi sebagai mahasiswa dengan jatah uang bulanan 500-600ribu, gaji segitu udah sangat besar bagiku. 

Pun setelah tamat dan mendapatkan gelar S2, gaji pertamaku tidak jauh dari nominal tersebut. Saya ingat sekali nasihat salah satu dosen yang saat itu sudah menjadi rekan kerjaku, beliau mengingatkan tentang ungkapan lama, yaitu "pengalaman itu mahal harganya". Klise memang, tapi sangat mengena saat itu. "Anggap saja kamu digaji 5 juta, dimana 4 jutanya dipotong untuk membayar pengalaman". Dan Alhamdulillahnya, seiring dengan bertambahnya pengalaman, ungkapan itu menepati janjinya. 

Demikianlah sedikit curahan tentang gaji pertamaku. Menurutku, kalau kamu punya skill yang luar biasa, tidak ada salahnya dengan 'menjual mahal' kemampuanmu itu. Yang salah adalah meminta mahal karena embel-embel almamatermu. Sekian 😁

Monday, July 22, 2019

Integritas

Bicara soal gratisan, aku yang masih lemah iman ini sering banget nget tergoda. Kadang hal-hal yang terasa sepele di dunia, sebenernya gede pertanggungjawabannya di akhirat.

Pekerjaan suamiku, kangmas DSR, memungkinkan ia bertemu banyak orang dengan berbagai kepentingan. Ada yang mudah diajak bekerja sama, ada pula yang diem-diem masih aja cari cara supaya bisa lolos dari aturan. Iming-iming gratisan pun bertebaran. Beberapa kali sampe di rumah, meski aku yakin suamiku sudah berusaha keras menolak.

Tak bisa aku bayangkan kalau aku yang bekerja, mungkin aku udah terjerat dalam tumpukan janji-janji gratisan. Aah Alhamdulillah Kau tempatkan aku di rumah Ya Tuhan..



Kali ini, kupon-kupon yang pernah singgah di rumah harus rela menuju tempat pembuangan sampah. Dalam WA suamiku mengetik, "Besok saya belikan dengan uang yang manis." Aaah so sweet ❤

Semoga tulisan ini sekaligus menjadi pengingat di hari kemudian, agar kita selalu berusaha menegakkan integritas dimanapun berada. Aamiin..

Saturday, June 15, 2019

Weekend Escape at the Capital of Bengkulu Part 1

Dua tahun tinggal di kota Bengkulu, rasanya cukup bagi saya untuk menuliskan sedikit review berlibur di kota ini. Area kota Bengkulu tidaklah begitu luas, sehingga traveller yang sengaja berlibur ke kota ini, ataupun sekedar mencuri waktu berwisata ketika sedang bertugas, memungkinkan untuk menjelajah sebagian spot-spot utama.

Menurut saya, berwisata di Bengkulu dapat dikategorikan menjadi dua 'jenis wisata' berbeda. Yakni wisata alam (pantai) dan wisata sejarah. Terakhir saya tinggal di kota Bengkulu adalah pada bulan September 2017. Sehingga, review yang saya tuliskan mengacu pada kondisi pada saat itu.

Bagi penyuka pantai, pesisir timur kota Bengkulu menyajikan pantai berpasir putih yang masih asri dengan pepohonan pinus. Di antaranya Pantai Panjang, Pantai Tapak Paderi, dan Pantai Jakat. Sepanjang Pantai Panjang bahkan dapat diakses gratis alias cuma-cuma. Cukup membayar uang parkir sebesar lima ribu rupiah untuk kendaraan beroda empat, dan kamu bisa sepuasnya menikmati hamparan Samudera Hindia. Sayangnya, demografi pantai yang cukup landai dan adanya ombak besar yang sesekali menghantam tepi pantai, kawasan Pantai Panjang ditandai sebagai zona berbahaya untuk berenang. Tapi tenang, sekedar bermain-main air sedikit masih tetap seru kok, apalagi garis pantainya cukup panjang sehingga memungkinkan mengajak teman-teman untuk bermain sepak bola atau voli di sepanjang Pantai Panjang ini. Tapi selalu waspada ya, jika tiba-tiba air laut pasang dan datang gelombang tinggi.





Waktu yang tepat untuk menikmati pantai, menurut saya adalah sore hari ketika matahari sudah tidak begitu terik, hingga matahari terbenam. Jika kamu datang pada saat cuaca sedang cerah dan tidak ada awan di langit paling timur, kamu akan dapat melihat detik-detik matahari menghilang melewati infinity line (horizon). 

Beberapa spot di Pantai Panjang menyediakan kursi-kursi plastik dan payung lebar untuk dapat dipakai pengunjung secara gratis. Cukup membeli jajanan dari pedagang-pedagang lokal di sekitar pantai, seperti kelapa muda, jagung bakar, roti bakar, bakso, dan lain-lain. 

Bagi kalian pecinta surfing, di utara Pantai Panjang ada Pantai Tapak Paderi (dekat Monumen Pers atau Benteng Marlborough). Ketika weekend tiba, sering terlihat beberapa orang dalam komunitas surfer lokal yang berlatih menggunakan skate board milik mereka. Masih di sekitar area surfing tersebut, warga sekitar mengelola secara mandiri kawasan pantai dan memberi nama Pondok Sandal Jodoh. Dimana mereka secara sukarela mengumpulkan sandal-sandal jepit yang terserak di pesisir pantai, serta menjadikannya spot-spot foto menarik, juga instagramable. Cukup membayar uang parkir kendaraan sekitar lima ribu rupiah untuk memasuki area ini.

Spot Foto di Pantai Tapak Paderi


Ke Utara lagi menyusuri jalan raya di bibir pantai, kamu akan menemukan Pantai Jakat. Jika kamu berlibur bersama anak-anak, the good news is kawasan pantai ini dinyatakan aman untuk berenang. Maka jangan heran jika weekend atau libur tiba, pantai ini akan ramai sekali. Penuh dengan pengunjung dan ban-ban besar yang disewakan. Tapi saya pribadi kurang begitu menikmati pantai ini, selain ramai, deburan ombaknya yang menghantam tepi pantai seringkali membawa pasir berwarna coklat kehitaman. 

Pantai-pantai di pesisir Timur kota Bengkulu ini menurut saya masih cukup otentik dibandingkan dengan pantai-pantai di Selatan Yogyakarta yang setiap pintu masuk pantainya sudah 'dikepung' dengan warung-warung ataupun penginapan, dan dikenakan tiket masuk untuk berwisata. Pasir pantai bengkulu berpasir halus berwarna putih keabuan. Meski pemerintah kota sudah menggalakkan beberapa ASN Pemkot setempat untuk gotong royong membersihkan area pantai setiap hari Jumat, serta mengimbau masyarakat setempat maupun yang berdagang di area pantai untuk menjaga kebersihan, sampah plastik dan ranting-ranting patah masih sering ditemukan di sekitar pantai.

Jika kamu ingin berwisata pantai di Bengkulu dengan suasana yang lebih tenang, saya akan memberikan tiga tambahan tempat wisata, yang salah satunya bisa dibilang hidden beach. Dimanakah lokasi hidden beach di sekitar kota Bengkulu? 😁

Selama menjadi penduduk di kota Bengkulu, saya suka menikmati keheningan Pantai Teluk Sepang Bengkulu yang masih alami dan belum terjamah pemerintah setempat untuk dijadikan objek wisata. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota Bengkulu (Google it! Ada link lokasi di Google Map). Pun tidak ada sarana transportasi umum yang bisa membawamu tepat ke pantai ini, sehingga satu-satunya cara mencapainya adalah menggunakan kendaraan pribadi (motor atau mobil pribadi). Sementara bus kurang disarankan, karena perjalanan menuju area ini melewati jalan perkampungan kecil yang sebagian belum beraspal, serta tidak adanya area parkir kendaraan. Sehingga jika kamu ingin mengunjungi pantai ini, kendaraanmu akan diparkir bebas di hutan pinus sekitar pantai. 

Perjalanan yang jauh terbayar dengan pantai yang masih alami dan bersih karena minim sampah plastik, garis pantai yang cukup panjang, pohon pinus yang masih asri, dan terumbu karang di sebagian bibir pantai. Bahkan saya pernah datang kesana ketika tidak ada satupun pengunjung pantai, jadi serasa milik sendiri pantainya, hihihi.. 


Pantai Teluk Sepang Bengkulu

Sunset di Pantai Teluk Sepang

Wisata pantai berikutnya menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Kali ini kamu harus berkendara sedikit jauh ke arah Utara Kota Bengkulu. Masuk ke Kabupaten Bengkulu Tengah, kamu akan menemukan Obyek Wisata Pantai Sungai Suci Bengkulu Tengah (Google it to find the location). Walaupun ada kata pantai-nya, tapi sepengamatan saya, tidak ada pantai berpasir di area obyek wisata ini. Pun jika ada areanya sangat sempit dan karena lokasi obyek wisata ini berupa tebing-tebing karang yang cukup tinggi, akan sulit menjangkau bagian pantainya. Tapi pemandangan disini indah banget lhoo..

Kalau kamu sedang berlibur ke kota Bengkulu dengan waktu yang relatif singkat, tempat ini very recommended. Karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota, saya sarankan kamu datang menggunakan kendaraan pribadi (mobil atau motor). Tidak harus menunggu sore hari untuk menikmati Pantai Sungai Suci ini, karena masih cukup banyak pepohonan rindang dan gazebo-gazebo yang dapat dipakai secara gratis. Pun kamu tidak perlu berbasah-basahan bermain air laut.

Obyek wisata ini menyajikan pemandangan batu karang berwarna coklat yang kontras dengan birunya air laut. Ada jembatan gantung yang menghubungkan daratan dengan salah satu gugusan batu karang nan rindang dengan pohon-pohon pinusnya.


Jembatan Gantung di Pantai Sungai Suci Bengkulu Tengah

Cukup membayar uang sebesar lima ribu rupiah perorang untuk melewati jembatan gantung menuju pulau kecil di seberangnya. Sekedar duduk-duduk sambil menikmati segarnya air kelapa muda, suara deburan ombak yang keras menghantam karang serta semilirnya angin laut akan kembuatmu terhipnotis dan melupakan hiruk pikuk area perkotaan 😁. Ada yang bilang kalau Pantai Sungai Suci ini adalah Tanah Lot-nya Bengkulu.

Pantai Sungai Suci Bengkulu

Setelah puas menikmati alam di Pantai Sungai Suci, kamu yang masih punya waktu berlibur banyak di Bengkulu dan ingin main air, bisa bergeser sedikit dari pantai ini menuju ke sebuah waterboom dan taman rekreasi yang populer di Bengkulu Tengah, yaitu Wahana Surya. Area ini sering digunakan sebagai wisata outbound dan rekreasi air bagi wisatawan setempat maupun luar kota.

Rekomendasi wisata pantai terakhir di kota Bengkulu, adalah menyewa perahu bermotor menyeberangi Samudera Hindia menuju Pulau Tikus. Berhubung penulis belum pernah kesana (karena punya baby dan lanjut hamil anak kedua), jadi tidak ada foto-foto dan review mendetil. Pulau Tikus sudah terlihat dari pesisir Timur Bengkulu. Akses terdekat adalah dari Pantai Panjang. Di pinggir jalan raya tepi Pantai Panjang ada beberapa agen tour yang menyediakan penyewaan perahu bermotor dan guide menuju Pulau Tikus. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp. 500.000 untuk satu perahu, yang bisa kamu naiki bersama 4-5 orang temanmu.


Demikianlah review wisata pantai di kota Bengkulu versi saya. Di lain kesempatan saya akan membahas wisata sejarah di kota Bumi Rafflessia ini. Terima kasih sudah berkenan membaca 😁

Sunday, June 4, 2017

Saat Aku Jadi Busui

Salah satu momen paling membahagiakan adalah saat sang buah hati lahir ke dunia. Alhamdulillah anak #2 udah lahir di penghujung bulan Sya'ban kemarin. Dan sekarang turut meramaikan bulan Ramadhan bersama.

Seiring dengan suksesnya proses persalinan, datanglah masa menyusui. Ingat saat menyusui #1 dulu, terutama saat berjuang melawan mastitis. Yang belum tahu silahkan google. Aku termasuk yang lambat penanganan dan sampai harus dioperasi kecil untuk mengeluarkan asi yang udah berminggu-minggu tersumbat di salah satu payudara. Saat antibiotik dan banyak cara udah pernah dicoba namun gagal, akhirnya harus kembali ke meja operasi saat anak #1 masih berusia 2 bulanan. Selama sakit dan setelah itu, menyusui menjadi semakin sulit. Apalagi #1 ngga mau menyusu di payudara yg sakit. Akhirnya produksi ASI di satu payudara terhenti dan #1 hanya menyusu di payudara satunya sampai 2 tahun.

Menjelang masa menyusui anak #2, aku sudah bertekad untuk mencegah dan berdoa supaya mastitis tidak datang kembali dan menyusui dengan 2 payudara bisa lancar sampai 2 tahun. Aku udah seneng pas hari pertama anak #2 lahir, asi langsung mulai keluar dan bisa inisiasi dini dibantu suami atau tenaga kesehatan.

Tapi kegalauan mulai terjadi. Hari ketiga saat masih di rumah bersalin, payudara yg dulu kena mastitis bengkak lagi. Padahal baru menyusui 3 hari dan produksi asi belum banyak. Kenapa? Aku mulai browsing mencari sumber yang dapat dipercaya. Ternyata mastitis yang tidak sembuh sempurna dapat muncul lagi saat payudara disusukan kembali. Asumsiku, mungkin sumbatan yang bikin ASI tidak lancar masih tetap ada. Tidak akan hilang kecuali terhisap keluar.

Aku berusaha sesering mungkin menyusui dengan payudara yang bengkak. Ditambah antibiotik dari dokter, doa, dan dukungan suami untuk bisa lancar menyusui. Alhamdulillaah si baby pun pinter menyusu di payudara yang bengkak tersebut. Hingga hari ini, saat #2 berusia 10 hari, bengkak berangsur hilang dan menyusui berjalan lancar.

Jadi, bagi yang pernah mengalami mastitis akut juga seperti saya, operasi untuk mengeluarkan ASI yang tertahan bukanlah penyelesaian untuk menghilangkan sumbatan di saluran ASI-nya. Satu-satunya cara untuk sembuh adalah percaya bisa menyusui dan terus susui sang buah hati hingga jalan ASI lancar kembali.

Salam semangat menyusui.

#seputarmastitis #ibumenyusui

Thursday, October 13, 2016

Expecting #2

Ternyata waktu bisa terasa lama sekaligus singkat secara bersamaan. Lama ketika hari-hari sebagian besar dihabiskan di rumah saja bersama anak pertama, yang terasa seperti itu-itu-melulu. Singkat ketika menyadari anak pertama sudah dua tahun dan sudah tidak ng-ASI lagi.

And the good news is, yes, I'm expecting for the second time. Gimana rasanya? Very happy and very blessed. Pertama karena bisa start hamil ketika si sulung udah sukses disapih. Kedua, karena kehamilan kedua ini memang ditunggu-tunggu sejak sekitar 5 bulan yang lalu.

Flashback ke jaman pacaran dengan Pak Dep. Once upon a time kita emang pernah merencanakan bagaimana kelak kehidupan pasca menikah. Bagian pengen punya anak berapa dan kapan, aku waktu itu pengen 2 sebenernya, tapi Pak Dep pengen 3, dan akhirnya aku ngalah oke 3 maksimal. 25+ usia menikah dan aku berharap usia 26 anak pertama lahir (Alhamdulillaah it's granted!), dan sekitar 3 tahun kemudian saat aku usia 29 anak kedua lahir (I do want it happen now!). Sehingga beberapa hari yang lalu saat test pack menunjukkan dua garis merah, aku seneng banget! Alhamdulillaah, You Hear my words, My Lord!

I realize that words still can't show how happy I am. Ya Rabb Yang Maha Agung, Maha Mengetahui. Engkau tentu tahu bahwa aku dan suami akan dapat menjaga titipan-Mu yang kedua. Sehingga Engkau beri kepercayaan lagi kepadaku untuk hamil. Mudahkan dan lancarkan, Ya Rabb. Mudahkan proses kehamilan hingga melahirkan. Berikanlah kesehatan keselamatan kepadaku dan buah hatiku. Aamiin aamiin Ya Rabbal 'Alamiin..

Dari sini aku tahu, bahwa apa yang kita ucapkan bisa menjadi doa. Percakapan 3-4 tahun yang lalu, diucapkan via telepon, dan sebenarnya tidak terlalu aku ingat. Ternyata semua Dicatat oleh Sang Maha Pengingat.

Have a happy pregnancy! 😍

Saturday, September 24, 2016

Awal Sapih

Bisa dibilang hari perdana sapih Danish, karena hari ini Danish betul2 stop asi.. rencana awal sebenernya ngga mau frontal stop asi.. pengennya bertahap.. mulai dari ngurangi frekuensi asi siang hari, stop asi siang hari, sampe akhirnya betul2 stop asi siang malam..

Hari Selasa 20 Sept kemarin sebenernya udah mulai ngurangi asi siang hari.. Selasa-Rabu Danish udh bisa asik main siang hari, sampe akhirnya cuma minta asi pas mau tidur siang.. sebelumnya dia jg udh dikenalin UHT, dan kmrn sempet seneng jg krn dia ambil susu kotak sendiri dan diminum sendiri sampe habis 2 kotak kecil..

Tetiba Rabu sorenya dia panas.. emaknya ngga tega buat lanjutin proses sapih karena si bayik nafsu makannya menurun drastis.. akhirnya Rabu dan Kamis malem hampir ngga putus asi..

Puncaknya Jumat malem.. panasnya Danish udah turun, suhu badannya udah nyaris normal lagi.. aku yang udah kelelahan banget ngasi malem itu (dan jg malem sebelum2nya), karena nyaris tiap satu jam sekali Danish bangun tengah malem dan minta asi.. lamanya ngasi juga nggak cukup 10-15 menit.. kadang sampe aku tertidur hingga kebangun lagi masih diempeng juga.. akhirnya Sabtu dini hari Danish minta asi aku alihkan minum air putih atau susu.. anaknya meronta2 dan nangis minta asi sampe sekitar satu setengah jam.. saat itu asinya emang udah kering karena dimimik terus, jadi menurutku minum air putih atau susu adalah pilihan terbaik.. akhirnya Danish berhasil tidur lagi tanpa asi.. eeh.. sejam kemudian kebangun lagi dan nangis lagi.. tapi ngga selama sebelumnya, kali ini digendong2 sebentar terus tidur..

Siang harinya, mungkin dia udah merasakan kalo merengek2 minta asi bakal useless.. aku juga terus kasih pengertian kalau sekarang Danish sudah besar, dan sudah nggak minum asi lagi.. akhirnya dia lebih sering minta minum air putih.. dan entah kenapa, tetiba dia ngga mau minum susu.. sejak panas kemarin.. tapi melihat kuantitas pipisnya Danish, aku rasa minumnya udah lumayan cukup.. jadi aku lanjutkan proses sapih..

Sapih siang berhasil.. meski anaknya masih agak lemes2 pasca pemulihan demam.. sampe malem ini juga masih aman sapihnya saat diajak foto sambil beli donat di bakery kesenengannya (aslinya bakery kesenengan emaknya 😅)..

Tapiii.. drama minta asi dimulai lagi malem saat perjalanan pulang di dlm mobil. Nyaris goyah emaknya dan pengen ngasih asi. Tapi suami meyakinkan kalau this is it. Sekaranglah waktunya buat sapih. Sesampainya di rumah, Danish digendong2 dan akhirnya tidur.

Berat sih awal sapih gini. Nggak tega, males repot ngadepin rewelnya, nyari2 cara buat bikin si bayik tidur, dan sebagainya. Tapi setiap ibu menyusui pasti mengalaminya. Iya, sooner or later sapih pasti tiba, dan nyaris tidak ada yang lulus sapih mulus tanpa drama. Jadi, emang kudu setrong.

Mama papa love you, anakku.. walaupun mama udah nggak kasih asi, mama sayaaang banget kok sama Danish.. selalu.. tumbuh sehat dan makin pinter ya nak.. 😙😙

Wednesday, July 27, 2016

Sehelai Memori

Jika memang ada, ingin sekali rasanya memiliki sebuah pensieve, ramuan ajaib, serta sehelai rambut yang bisa digunakan untuk menyimpan atau sekedar berjalan-jalan kembali ke masa lalu. Beberapa terasa seperti masih sangat dekat, seolah baru kemarin.

Waktu itu saya dan mahasiswa baru lainnya sedang mengikuti kelas Kalkulus I. Suasanya kelas tampak lengang, sebagian besar mahasiswa hanya menunduk dan hampir tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dosen pengajar. Yang terdengar hanyalah derap sepatu kulit warna hitam sang dosem yang berjalan cepat di depan kelas, lalu ke belakang, lalu kembali lagi ke depan. Sambil terus berbicara dengan penuh semangat, lalu mengulang beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang tidak ada variabel x, y, atau z-nya, tidak juga ada kata limit, turunan, maupun integral. Tidak ada angka.

Sama seperti mahasiswa lain, saat itu saya kesulitan mengikuti arah pembicaraan sang dosen. Seperti sedang menghubung-hubungkan tentang materi yang akan dipelajari, juga memotivasi, juga disertai pertanyaan-pertanyaan singkat yang sepertinya sepele tapi entah kenapa terasa begitu susah dan tidak ada satupun yang menjawab. Tapi saya yakin pasti banyak yang ingin disampaikan sang dosen, hingga suaranya terdengar secepat derap sepatunya saat berjalan di dalam kelas. Sangat bersungguh-sungguh.

***

Lama berselang, di suatu kesempatan berbeda beberapa tahun kemudian. Masih terasa hangatnya tumpukan kertas setelah keluar dari mesin fotokopi. Berpacu dengan waktu yang semakin malam, sementara sidang akhir tinggal menghitung jam. Dengan penuh harap saya hubungi sang dosen agar bersedia ditemui dan membaca hasil kuliah saya selama dua tahun, sebelum diuji keesokan harinya. Akhirnya draft tesis berhasil saya serahkan.

Keesokan harinya sebelum sidang, draft tesis saya telah menjelma penuh catatan dan lipatan-lipatan. Nyaris dari awal sampai akhir section ada catatan dari sang dosen. Kecewa? Tidak! Sama sekali tidak. Dibandingkan dengan euforia lulus sidang dengan nilai A yang diumumkan hari itu juga, catatan-catatan dari sang dosen adalah yang paling berkesan. I don't know why, but that means a lot to me.

***

Bulan-bulan berikutnya saya dapat kesempatan untuk belajar mengajar di beberapa kelas sang dosen. Sementara saya duduk memperhatikan layaknya seorang mahasiswa baru, saya dengar kembali derap sepatu kulitnya. Suasana kelas yg mendadak lengang. Suaranya yang cepat secepat langkah kakinya. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tak satupun mahasiswa mampu menjawab.

Tidak seperti beberapa tahun lalu, kali ini saya lebih paham. Pertanyaan-pertanyaan sang dosen tidak sulit. Mudah dijawab. Dan setiap kali memulai pelajaran selalu disertai dengan kata-kata motivasi yang apik. Mungkin dulu saat sedang menjadi mahasiswa baru saya belum betul-betul terbuka hati dan pikiran untuk dididik. Tapi kali ini saya tahu, he's the real teacher!

Sunday, June 5, 2016

Perlukah Memaksakan Anak untuk Makan?

Mohon maaf sebelumnya jika isi tulisan saya bertentangan dengan apa yang Anda yakini sebelumnya. Harap dibaca dengan pikiran terbuka. Keep smile 😄

---

Belakangan di timeline Facebook banyak yang share sebuah postingan tentang cara menyikapi anak yang tidak mau makan nasi. Mereka sebut anak bule. Anak bule yang diceritakan ini memiliki kecenderungan lebih suka makan makanan non-nasi, seperti roti dan buah. Kesukaannya terhadap makanan non-nasi inipun didukung oleh pendapat dokter anak yang membolehkan anak memakan makanan tersebut.

Saya setuju. Saran dokter tersebut bagus banget. Karbohidrat bisa ditemukan dari makanan lain selain nasi. Protein, lemak, dan vitamin serta mineral pun banyak macamnya di alam kita ini. Silahkan makan apa saja yang disukai, ASALKAN BERNUTRISI.

Namun sayangnya beberapa masyarakat yang merespon postingan ini mengambil kesimpulan berbeda dengan apa yang saya yakini. Beberapa membenarkan sikap anaknya yang hanya mau makan satu makanan tertentu, sebut saja pisang. Beberapa ada yang membiarkan anaknya tidak makan sampai dia minta makan sendiri.

Maaf saya ingatkan, membiarkan anak tidak makan dengan membiarkan anak memilih makanan yang disukainya itu berbeda, ibu-ibu.

Membiarkan anak tidak makan untuk waktu yang cukup lama dapat memicu peningkatan asam lambung, karena lambung terlalu lama kosong tanpa ada yang dicerna. Sementara hanya memberikan satu atau dua jenis makanan tertentu dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan anak kekurangan asupan nutrisi yang penting untuk tumbuh kembangnya.

---

Kesukaan terhadap makanan tertentu mungkin memang naluriah terbentuk. Tapi kebiasaan dan sikap untuk menghargai semua makanan yang telah disajikan sangat mungkin untuk ditanamkan sejak dini.

Ada benarnya nasihat orang tua terdahulu, tatkala anak atau cucunya susah makan. "Ditelateni." Iya, telaten kuncinya. Mari ibu-ibu, jika beberapa anak kita tidak suka nasi, ganti dengan roti atau jagung atau lainnya. Jika tidak suka ayam goreng, ganti dengan nugget ayam. Jika tidak suka wortel yang disayur, ganti dengan jus wortel. Jika tidak suka brokoli, ganti dengan sayur bayam atau sumber protein dan zat besi lainnya.

Salam semangat dari ibu yang juga terus belajar serta berdoa agar sang anak tumbuh sehat, sholeh, dan ceria. Aamiin.

Saturday, June 4, 2016

The Road not Taken

Tetiba keinget dengan puisi terkenal yang disampaikan Professor saya dulu, kemudian berpikir, did I take the one less travelled by?

Masih, sampai kini, di usia dimana kebanyakan orang sudah memiliki pekerjaan dan karir yang matang, saya bertanya-tanya, mau jadi apa saya nanti?

Pernah suatu ketika saya membayangkan menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus bussinesswoman dengan sebuah clothing line pakaian bayi dan anak. Telaten mengurus bisnis sambil tetap dekat dengan anak. Mengantar jemput, meluangkan waktu untuk menemui gurunya di sekolah sekedar untuk memantau pergaulan dan perkembangannya. Menemaninya les musik atau berenang. Berkenalan dengan teman-temannya. Ah, sungguh indah dapat selalu menemani dan memantau si buah hati. So sweet.

Pernah juga saya membayangkan akan menjadi seorang wanita karir yang bekerja from 8 to 5 di sebuah kantor negara. Dimana waktu paginya saya sempatkan mengantar anak sekolah, dan siangnya di sela-sela waktu istirahat bisa mengajak anak makan siang bersama. Kemudian mencarikan tempat les sekaligus taman bermain untuknya di siang hingga sore hari sambil menunggu mamanya pulang kerja. Serta mengajak seorang kerabat terpercaya yang mampu mengawasi anak beberapa jam di rumah serta mengerjakan sebagian pekerjaan rumah. Aaah what a hectic but challenging day.

Pernah juga saya membayangkan kelak memiliki sebuah sekolah atau yayasan atau tempat bimbingan belajar dimana nanti anak saya ikut belajar disana. Kurikulumnya saya susun sedemikian rupa sehingga anak dapat belajar tanpa beban. Penuh ceria dan antusias menerima ilmu baru. That would be fun!

Jalan di depan masih panjang. Mungkin saja indah, mungkin sedikit terjal. Menyisakan beribu pertanyaan tentang apa yang akan saya temui disana nanti.

--Bengkulu menjelang Ramadhan--

Wednesday, April 9, 2014

Yes, I'm Pregnant!

---Repost from Evernote---

Sebulan berlalu sejak USG pertama. Tepat di hari pertama bulan Maret 2014, saya dan suami kembali ke dokter obsgyn. Menstruasi yang tak kunjung datang membuat kami ingin segera memastikan keberadaan janin yang tumbuh di dalam rahim saya. Jika tak salah hitung, awal Maret ini usia kandungan saya sudah memasuki minggu kesembilan sejak hari pertama haid terakhir saya. Umumnya janin sudah tumbuh sekitar 1-2 cm dari buku yang saya baca.

Kebahagiaan kami terjawab saat melihat layar USG. Di layar hitam putih itu terlihat sebuah kepala, badan, tangan dan kaki mungil yang belum tumbuh sempurna. Panjangnya saat itu 1,65 cm dengan perkiraan usia 8 minggu 5 hari. Jantung janin kami terlihat berkedip-kedip di layar USG. Ya, dia berdetak! Saya betul-betul hamil!

Kebahagiaan ini terlalu besar untuk kami simpan sendiri. Segera kami sampaikan ke keluarga dan kerabat terdekat. Mereka pun menyambutnya dengan suka cita. Terus tumbuh sehat ya, Nak. Kelak jadilah seorang putra/putri yang senantiasa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekitarmu.

Am I Pregnant?

Hallo guys, long time no see. Saya sekarang sudah resmi menjadi seorang istri sejak 28 Desember 2013, setelah kakanda DSR mengucapkan ijab qabul di hadapan ayahanda. Alhamdulillaah yah.. Semoga keluarga baru yang kami bina ini akan selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.. Aamiin..

Berikut ini adalah repost dari evernote. Belakangan saya lebih suka ngepost disana karena lebih praktis, seperti di memo atau notepad. Selamat membaca guys!

---------------

Tanggal 3 Februari 2014 saya mulai menyadari bahwa tanggal datang bulan saya lebih lambat dari biasanya. Dengan siklus menstruasi 28 hari, seharusnya akhir Januari sekitar tanggal 27-29 tamu saya sudah datang. Dua hal yang terpikirkan di pikiran saya. Pertama, apakah ada 'gangguan' sehingga datangnya tidak sesuai jadwal? Seperti sebulan sebelum menikah, tamu saya datang satu minggu lebih awal. Kedua, apakah saya hamil? Ya, setelah sebulan mengarungi bahtera rumah tangga baru, bagian kedua ini tentu akan menjadi satu berita bahagia.

Segera saya menguji lewat alat uji kehamilan. Ternyata dua garis! Garis pertama berwarna merah gelap sedangkan garis kedua berwarna merah muda tipis.

Di hari berikutnya saya uji sekali lagi dengan test pack baru, lagi-lagi dua garis. Alhamdulillaah, saya dan suami berpandangan sambil tersenyum bahagia. Berikutnya hari Rabu, tanggal 5 Februari 2014, saya dan suami untuk pertama kali mengunjungi dokter spesialis obsgyn.

Sedikit kecewa saat melihat layar USG 2D, karena sang gumpalan darah belum terlihat. Keterbatasan alat USG membuat kami harus bersabar menunggu 2-4 minggu ke depan untuk memastikan betul-betul ada kehidupan di dalam rahim saya. Tanda-tanda kehamilan yang sering ditemui pada ibu hamil kebanyakan seperti mual dan muntah pun belum terlihat. Saat itu saya baru merasa sedikit letih, sering buang air kecil, dan payudara yang lebih kencang dari sebelumnya.

Saya pun terus berdoa supaya saya betul-betul hamil dan menjaga asupan gizi layaknya ibu hamil.

Saturday, November 30, 2013

Serving Beverages

Sekarang saya hobi minum. Eits, non-alcoholic drinks tentunya. Kata kakanda, hobi saya mah musiman. Kadang agak rajin masak, tapi banyakan malesnya. Pernah ikutan kelas aerobic, tapi cuman bertahan dua bulan (kalo sampe). Pernah menggebu-gebu jualan sepatu, tapi kini kandas pemirsa. Pengen ikut aikido, tapi cuman sekedar kepengenan doang. Nah, yang paling terakhir ini saya lagi suka bereksperimen membuat beberapa minuman.

Musim mangga gini, rada bosen juga kalau mangga cuman dimakan gitu aja atau dibikin original mango juice terus. Pas buka kulkas kebetulan masih ada Nescafe Cappuccino, dan muncullah ide gila untuk nge mix-match kedua ingredients tersebut. Saya sebut ide gila karena selama ini belum pernah terlintas di imaji saya untuk bikin duet maut dua bahan itu. Daripada sakit perut, akhirnya saya cari beberapa referensi di internet terlebih dahulu.

Rupanya udah banyak kreasi minuman berbahan kopi, mingled with some tropical fruits, dan of course dengan mangga! Salah satunya saya baca dari sini. Rasanya seger dan bau kopi! (iyalah ciin). Truthfully, agak aneh rasanya di lidah. But that's not a bad idea.

Kemarin saya ngirisin jahe lalu direbus sama daun teh melati, disaring, ditambahin madu dan sedikit gula. Jadilah teh madu jahe.

Teh Madu Jahe dari sini

Kepingin bikin green tea blended, tadi sore sepulang ngajar saya mampir ke Giant. Nyari-nyari matcha powder. Bubuk green tea gitu. Sayangnya nggak ada mbaksis. Padahal lidah ini udah kemetcher pengen ngeblend sendiri, jadi pure green tea blended atau green tea latte. Atau dicampur-campurin bahan lain (caution: don't try this at home!). Walaupun agak pait, green tea rasanya strong banget di lidah. Khas. Bikin pengen nyoba lagi dan lagi. 

Jadi ceritanya hobi nimbun kalori sebelum tidur sekarang. OMG! Sweet things aren't always good. They cause weight problems, ladies!

Thursday, November 28, 2013

Hampir Akhir Semester

Pagi ini shoulder bag saya terasa berat. Sudah biasa sih bawa-bawa laptop gede ke kampus. Tapi yang bikin massa tas ini semakin berat adalah karena sebuah surat pengunduran diri ke fakultas yang akhirnya saya ajukan juga.

"Mengundurkan diri?" ibu petugas di bagian surat-menyurat fakultas pengen mengulik lebih dalam. Dengan tegap saya duduk di depan sang ibu dan menjelaskan bahwa saya akan diboyong kakanda ke domisilinya sekarang dan memutuskan berhenti setelah SK mengajar semester ini berakhir. Saya ingin jadi istri yang baik, Bu (tambah saya dalam hati) ::blushing::

Terlewati sudah kebimbangan untuk mengusulkan nomor induk dosen negeri yang berkecamuk sejak awal semester ini. Namun kegalauan atas pertanyaan seperti apakah nanti saya masih menjalani profesi yang sama belum juga kelihatan jalan terangnya. Beberapa rekan mengajar menyarankan untuk urus NIDN sebenernya. "Sayang cin, cum-nya bisa ditambahin untuk naik golongan". Sempet terkatung-katung, akhirnya sampai surat pengunduran diri dilayangkan, usul NIDN saya ikhlaskan. Semoga mendapat gantinya yang lebih baik, seperti kata ibu bagian surat-menyurat tadi. Mohon dikabulkan, Ya Rabb. Aamiin..

Terbayang bagaimana perasaan mahasiswa dan rekan-rekan mengajar yang nanti saya tinggalkan. Akankah saya meninggalkan kesan baik bagi mereka. Akankah di kemudian hari saya temui orang-orang dan lingkungan kerja yang menyenangkan seperti yang baru saja saya dapati?

--see you better world!--

Wednesday, September 25, 2013

Happy Birthday

Menjelang sore, panas, sambil ngawas kuis I GAD di kelas..

Senang sekali hari ini setelah membaca beberapa ucapan selamat ulang tahun dari keluarga, dari teman, dan juga murid-murid. Semoga doa-doa yang disebutkan diijabah oleh Sang Maha Kuasa, dan semoga doa yang sama diberikan kepada semua yang menyebutkan. Aamiin.

Jika satu abad dibagi menjadi empat interval waktu, usia 25 tepat menjadi kuartil pertama. Dan saya mulai memasuki seperempat abad yang kedua. Mungkin akan ada banyak peralihan atau perubahan saat memasuki interval baru ini. Status perkawinan, tempat tinggal, tempat kerja, teman-teman baru, lingkungan baru, kesibukan baru.

Happy birthday to me. Grow wiser, grow better.

Tuesday, September 24, 2013

The Engagement

Menjelang siang yang terik dan berangin..

Flash back ke cerita akhir pekan sebelum pekan kemarin. Hari Sabtu di minggu kedua September saya kembali pulang ke rumah. Pulang kemarin sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya, karena hari itu saya dan keluarga kedatangan tamu. Mas Dep, yang akrab dipanggil DSR di post-post sebelumnya, datang ke rumah...

Istilah Jawanya, "nembung", atau juga disebut lamaran. Mas Dep datang bersama keluarganya ke rumah dan nembung kepada bapak untuk menikahi putri satu-satunya. Disaksikan oleh om-om dan bulik-bulik, akhirnya lamaran diterima. :')

Selanjutnya menentukan tanggal kapan akad dan resepsi akan dilangsungkan. Penentuan tanggal tidak sulit. Semua hari adalah hari baik. Dengan pertimbangan libur sekolah dan libur kuliah, minggu terakhir Desember dipilih, dan insya Alloh akad dan resepsi akan diadakan di akhir pekan terakhir Desember nanti. :')

Alhamdulillaah dan Bismillaah. Alhamdulillaah, karena akhirnya Mas Dep dan saya sampai di tahap ini setelah perkenalan hampir dua tahun yang lalu. Bismillaahirrohmaanirrohiim, semoga segala persiapannya dilancarkan dan dimudahkan. Aamiin.

Monday, August 19, 2013

[mumpung masi Syawal] Selamat Idul Fitri

Entah ada pembacanya entah tidak, pokoknya untuk semua kata-kata yang kurang berkenan, salah ketik, salah opini, salah curhat, salah copy foto, dan lain-lain, saya memohon maaf lahir dan batin ya all..



A Courage to Start

Dalam kurun kurang dari satu tahun ini saya bertemu ratusan mahasiswa baru. Semuanya mengambil matakuliah yang berhubungan dengan matematika maupun pendidikan. Sebagian di antaranya menekuni matematika karena berpandangan bahwa bidang ini dapat menjadi sebuah profesi baginya kelak. Sementara tidak sedikit dari sebagian yang lain mengikuti perkuliahan matematika karena kurikulum tempatnya belajar memuat matematika sebagai salah satu bidang ilmu yang harus diampu.

Tak terkecuali di Fakultas Ilmu Komputer, matematika menjadi salah satu dari beberapa matakuliah yang harus ditempuh. Semester lalu saya diikutkan ke dalam tim pengajar matakuliah Kalkulus bersama dosen senior lainnya. Lagi, semester pendek ini pun saya mengajar matakuliah Matematika di fakultas tersebut. 

Matematika di kelas manajemen informatika hanya diminati oleh sebagian kecil mahasiswanya. Mereka terlihat antusias belajar mungkin karena memiliki minat tersendiri terhadap matematika sejak di bangku sekolah dulu, mungkin juga karena mereka menginginkan sebuah huruf bagus di transkrip nilainya lulus nanti. Sebagian yang lain terlihat memperhatikan namun ketika ditanya pertanyaan yang telah diulang-ulang tetap saja tak mengeluarkan sepatah kata. Sebagian lagi sibuk dengan bermain gadget diam-diam, atau mengobrol kecil yang cukup mengganggu kelangsungan belajar kelas.

Satu dua pertanyaan mudah dengan tipe serupa diberikan berulang kali. Pun sebagian besar mahasiswa kesulitan. Lembar jawabannya kosong. Beberapa terlihat mencoba namun tak menemukan jawaban, beberapa lainnya terlihat sama sekali tidak ambil pusing dengan pertanyaannya, malah serta merta berkomentar kalau soalnya terlalu sulit.

Yang saya lihat, sebagian dari mereka yang mengatakan sulit bahkan sama sekali belum terlihat seperti sedang berpikir atau mengerjakan soal. Misalnya dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan pola bilangan, mahasiswa diminta untuk menentukan jumlah 20 suku pertama dari sebuah deret aritmatika,
1, 3, 5, 7, 9, ...
Sebenarnya ada banyak cara untuk menyelesaikan soal tersebut. Semua orang bisa menyelesaikannya, bukan hanya mereka yang mendapatkan nilai tinggi untuk matapelajaran matematika di pendidikan menengah. Dengan satu persatu mendaftar bilangan hingga bilangan ke-20 lalu menjumlahkannya, tentu permasalahan selesai. Atau mungkin cara lain, dengan mengamati pola hasil penjumlahan beberapa bilangan, kita akan menemukan pola bahwa jumlah n bilangan pertamanya sama dengan kuadrat dari n.

Ambil saja dua bilangan pertama, jika dijumlahkan hasilnya adalah 4, atau 2 pangkat 2.
Tiga bilangan pertama, jika dijumlahkan hasilnya adalah 9, atau 3 pangkat 2.
Empat bilangan pertama, jika dijumlahkan hasilnya adalah 16, atau 4 pangkat 2.
Dan seterusnya, sehingga jumlah dari 20 bilangan pertama adalah 20 pangkat 2, yaitu 400.

Beberapa mahasiswa tidak mau memulai. Mulai mencari solusi dari apa yang mereka ketahui terlebih dahulu.

Kadang kita merasa bahwa sesuatu yang belum pernah kita alami terlihat susah. Tapi ketahuilah, kadang sesuatu yang kita takuti tidak seseram yang kita bayangkan. Mulai, lanjutkan, selesaikan!

Tuesday, July 23, 2013

The Greatest Gift

Diberi hadiah yang baik sungguh menuai bahagia. Syukur kali ini atas hadiah-Nya, yang tak pernah bisa terbalas.

Semoga di tahun ini kamu bisa melanjutkan yang dulu sempat terhenti, menisik yang terkoyak, merantaikan mimpi demi mimpimu dengan tanggung jawab dan kesungguhan yang penuh.

Congrats, dek Bryan.