Showing posts with label Nostalgia. Show all posts
Showing posts with label Nostalgia. Show all posts

Friday, October 14, 2011

Sebagian Cerita Pramuka Jaman SMA

Malem ini lagi-lagi saya teringat tentang nostalgila jaman masih muda dulu. Yah, semua bermula dari cerita ngalor-ngidul tentang kegiatan ekstrakurikuler pramuka jaman sekolah dulu. Inget pramuka, inget dong sama kegiatan di bhayangkara dulu, inget juga dong sama pertemuan dengan si dia dulu. Ups, jadi malu. Mudah-mudahan suami saya nanti (cailah, siapa ya?) nggak cemburu waktu baca postingan ini. Setiap orang tentu pernah muda dong. Dan saat muda, sesuatu bisa saja terjadi. Hehe.

Udah bukan cerita baru lagi kalo kelas 2 SMA dulu saya aktif di kegiatan pramuka. Itu adalah satu-satunya kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikutin selama sekolah dulu, officially sejak kelas 4 sekolah dasar. SD dulu saya belum begitu suka pramuka. Jam enak-enaknya tidur siang, atau nonton film akhir pekan yang bagus, malah pakek seragam pramuka lengkap, dijemur di bawah terik matahari. Yang namanya apel pembukaan di siang bolong jam 3 yang masih panas luar biasa emang sangat menyiksa. Udah saya dulu berbadan mungil, ditempatkan di barisan paling belakang pula. Pengen cepet-cepet pulang.

Enaknya ikut pramuka baru terasa saat SMP. Berlanjut saat setelah dilantik menjadi pasukan bantara di SMA. Lalu terpilih mewakili sekolah bersama temen-temen lainnya untuk menjadi anggota pelajar bhayangkara tingkat kecamatan. Disitulah saya mulai mengenal lebih deket temen-temen pramuka dari sekolah lain.

Hari itu ada kegiatan gladi resik persiapan sebuah acara di kantor kecamatan. Ehem, harap maklum ya, jaman sekolah dulu (sebelum dipindahkan ke Palembang), saya cuman populer di tingkat kecamatan :D.

Kembali ke gladi resik di kantor kecamatan. Kalo nggak salah, itu adalah hari penyambutan camat yang baru. Anggota pelajar bhayangkara kebetulan diundang untuk membantu panitia pelaksana acara. Sebagai anggota penting di kalangan pelajar bhayangkara (cailah) saya tentu hapal siapa-siapa saja rekan-rekan saya, baik yang satu sekolah maupun yang dari sekolah lain. Sebelum gladi resik dimulai, perhatian saya tertuju kepada beberapa pelajar putra, yang saya yakini bukan dari sekolah saya, ikut berkumpul bersama anggota pelajar bhayangkara yang lain. Salah satu dari orang-orang baru itu berseragam putih-abu menaiki sebuah sepeda W*m C*cle keren, terlihat mengobrol bersama anggota pelajar bhayangkara di bawah pohon di depan kantor kecamatan. Aneh, di acara bhayangkara gini kok dia pake seragam putih-abu, sementara pelajar yang lain pake seragam pramuka.

Sekedar info, jaman kelas 2 SMA dulu, sepeda tentu bukan kendaraan yang populer. Kebanyakan pelajar SMA menaiki kendaraan bermotor, motor atau mobil. Cuman satu atau dua pelajar saja yang naek sepeda ke sekolah, yang saya tau, mereka adalah pelajar yang tinggal di daerah yang sulit dijangkau kendaraan umum. Walaupun tempat tinggalnya cukup jauh, mereka tetep semangat bersekolah dengan sepeda mereka. Salut deh buat mereka yang tetep eksis bersepeda.

Entah kenapa, saat itu saya betul-betul ingin tau siapakah si pemuda bersepeda itu. Pertama, karena dia cukup good-looking dan saya baru pertama kali melihat dia di rombongan pelajar bhayangkara. Kedua, karena dari jauh dia terlihat cukup pendiam namun sesekali terlihat tertawa renyah, dan senyumnya juga begitu sumringah. Ketiga, karena baju putih-abu dan sepedanya, terlihat berbeda saja menurut saya.

Hari itu, pertanyaan siapakah namanya tak kunjung terjawab. Beberapa temen dari sekolah yang sama dengan saya juga nggak tau siapa namanya. Mau tanya temen dari sekolah lain yang kira-kira satu sekolah dengannya, saya malu dan nggak punya alasan yang tepat kenapa nanya namanya. Sampe akhirnya waktu absen tiba. Saya edarkan secarik kertas kepada semua pelajar yang hadir disitu. Saya perhatikan, di giliran ke berapa dia menulis nama. Setelah kertas absen kembali ke tangan saya, saya menerka-nerka, yang manakah nama pemuda itu? Yak, pasti yang itu! Ebuset, namanya cuman ditulis pake tiga huruf.

Hari berikutnya, tepat di hari pelaksanaan acara di kantor kecamatan. Si pemilik tiga huruf itu nggak muncul batang hidungnya. Sampe acara selesai. Nggak tanggung jawab banget, umpat saya dalam hati.

Berbekal nama yang cuman 3 huruf dan asal sekolah, saya mulai mencari-cari, siapakah dia sebenernya. Lalu sekitar seminggu kemudian, bermodalkan informasi dan bantuan dari sana-sini, akhirnya saya tau nama lengkapnya, dimana rumahnya, dan asal sekolah SD dan SMP-nya. Hehehe. Kebetulan banget, temen sekelas saya ada yang kenal deket sama dia. (Awal Maret lalu saya dapet kabar kalo temen sekelas saya itu, Sundari, yang memperkenalkan saya dengan pemilik tiga huruf itu, meninggal dunia. Semoga diampuni dosa-dosanya, semoga diterima di sisi-Nya).

Berkat bantuan Sundari si mak comblang, akhirnya saat itu saya bisa bertemu kembali dengannya. Begitulah, akhirnya saya mengenalnya lebih banyak lagi. Berteman dekat dengannya selama lebih dari setahun yang cukup menyenangkan. (Setelah itu saya baru tau, ternyata dia nggak dateng di hari-H kegiatan di kantor kecamatan karena dia nggak punya baju pramuka. Selama ini dia selalu pakai seragam putih-abu dan seragam khusus sekolahnya di hari-hari sekolah.) Semoga bertemu lagi ya! ^__^

Sunday, September 25, 2011

Sate

Salah satu dari sekian banyak makanan favorit saya adalah sate. Mengapa sate Madura begitu menggoda?

Pertama aromanya. Dulu itu, entah itu adalah pertama kalinya saya diajak membeli sate, atau entah itu pertama kalinya saya menyadari betapa harumnya asap sate (gyaa, asap!). Suatu sore hari, mungkin sekitar pukul 5 sampai 5.30 sore, karena waktu itu lampu jalan belum menyala, serta orang-orang belum menghidupkan lampu-lampu rumah. Saya berdiri dengan senangnya di depan vespa biru milik Bapak. Rambut saya yang waktu itu nggak pernah lebih dari sebahu berkibar-kibar. Aah, angin sore begitu indah.

Lalu Bapak berbelok ke sebuah warung di pinggir jalan raya di deket pasar kecamatan. Warung yang mengeluarkan asap hingga ke pinggir jalan. Herannya, wangi asapnya enak banget. Harum, seperti sesuatu yang saya kenal!

Di tempat dimana asap itu berasal, berdirilah seorang bapak berkumis, bertopi aneh, serta salah satu bola matanya terlihat seram. Belakangan saya baru tau kalo bapak penjual sate itu katarak. Bapak berkumis pak raden itu sedang mengipas-ngipas sesuatu. Aha! Sate! Ternyata asap itu adalah asap sate. Setelah itu, tiap kali tau kalo Bapak atau Om saya (adiknya Ibu) hendak pergi membeli sate, saya selalu pengen ikut. Demi mencium asap sate. Hwahahaha.

Kedua, tentu rasanya. Saya suka sate berbumbu kacang dan berkecap. Tapi saya kurang suka sate yang berkecap saja, atau sate dengan bumbu kacang saja. Saya suka kalo bumbu kacangnya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu halus. Lebih enak yang terasa "kres-kres" gitu. Hehehe. Pokoknya sate madura bapak berkumis di deket pasar kecamatan waktu itu terasa T.O.P B.G.T.

Sebelum sekolah pun saya sudah tergila-gila pada sate. Tiap kali sakit, saya selalu minta dibelikan sate. Nggak ada sate, nggak makan. Nggak ada sate, belum sehat. Tapi herannya, setelah makan sate, saya waktu itu merasa lebih sehat. Lalu segera sembuh. Aneh ya.

Hari ini, saya bikin sate sendiri. Walaupun nggak seenak sate-sate yang pernah saya coba sebelumnya, rasa sate ini cukup mengobati rasa rindu kepada keluarga, kepada kampung halaman, kepada semuanya.

Have a very warm Sunday!

Thursday, September 15, 2011

Majalah Edisi Valentine

Waktu itu kelas 1 SMA, saya di kelas 1.2. Saya duduk di bangku nomor empat dari depan. Di depan saya, kalo nggak salah, ada Dhana, kadang juga saya panggil Dhani. Di samping kiri saja tentu saja Nelly yang cantik. Keturunan asli Batak tapi bermata sipit dan berkulit putih. Orang-orang pasti mengira dia memiliki darah Tionghoa. Heh? Tionghoa dari hongkong?! Di belakang saya adalah Agi Guntoro yang sering saya panggil Egi, dan Ade Irawan sang wakil ketua kelas.

Waktu itu adalah pelajaran Geografi. Salah satu dari sekian banyak mata pelajaran yang nggak saya sukai. Oke, saya sedikit suka Geografi kalo itu sudah menyangkut pengetahuan-pengetahuan umum tentang letak geografis negara-negara di dunia atau kebudayaan-kebudayaannya. Tapi saya paling nggak suka kalo itu udah tentang kependudukan dan unsur-unsur bebatuan, serta tentang bentuk permukaan bumi. Eeerrrggghhh. Ngantuk sekali.

Waktu itu Pak Saidi, guru geografi kelas satu, sedang 'mendongeng' tentang unsur-unsur tanah atau apalah itu. Batuan sedimen, batu apung, batu akik (ehe, yang belakangan enggak ya). Rasa kantuk mulai merambat mendekati mata. Tiba-tiba, cling! Saya baru inget, tadi pagi sebelum pelajaran dimulai saya sempet minjem majalah anak muda, An**a Ye**! edisi valentine milik Dian Mayasari, siswi kelas 1.4 yang dulu juga adalah temen sekelas saya selama 3 tahun di SMP. Cover majalahnya berwarna pink, dengan model yang tersenyum lebar, cantik dan cakep!

Entah kenapa saya merasa pede-pede saja untuk mengangkat majalah itu ke atas meja belajar. Mungkin karena ada tiga bangku di depan saya. Majalah saya taruh di atas meja, buku-buku saya tumpuk di bagian depan meja saya, lalu buku catatan di atas majalah, sesekali saya singkirkan demi kelancaran membaca majalah. Namun kalau saya merasa kurang aman, buku catatan langsung saya taruh menutupi majalah.

Di tengah penjelasan Pak Saidi tentang bebatuan itu, tiba-tiba Pak Saidi berjalan menuju sela-sela bangku, menuju ke arah saya. Buku catatan saya tutupkan di atas majalah. Karena buku catatan saya masih kurang besar, lalu saya tutupi juga pake beberapa buku yang saya tumpuk di meja bagian depan. Berdirilah Pak Saidi, persis di samping saya. Dada ini sudah bener-bener bergemuruh, teman! Saya membayangkan akan dicubit, dijewer, ditampar, atau disobek-sobek bajunya.

"Apa itu yang di bawah buku catatan?" Kurang lebih begitu kata-kata Pak Saidi.

Seisi kelas langsung lengang. Semua mata tertuju ke arah saya. Nelly diam, dia nggak mau ikut campur dengan tindak kenakalan saya. Padahal sebelumnya dia juga udah mengingatkan untuk menutup majalah sebelum ketauan.

Oh man, rasanya seperti baru saja ketauan membunuh! Serem sekali merasakan detik-detik saat Pak Saidi berdiri di samping kanan meja dan semua mata di kelas melihat ke arah saya. Karena saya tetep saja bungkam, Pak Saidi mengambil sendiri majalah yang ada di bawah buku catatan. Sesaat saya terpikir harus berurusan ke guru BP, mengambil majalah disana. Atau paling buruk, majalahnya nggak dikembalikan. Tapi yang terjadi adalah, Pak Saidi menyobek majalah menjadi dua! Lalu menjadi empat, lalu menjadi delapan, lalu menjadi lembaran-lembaran kecil yang berserakan di atas meja!

Ooh, hati saya juga terasa seperti dikoyak-koyak. Harus bilang apa ke Dian nanti?

Seiring dengan selesainya eksekusi terhadap majalah pinjaman edisi Valentine itu, bel tanda istirahat berbunyi. Sebelum meninggalkan saya yang tertunduk menyaksikan sobekan-sobekan majalah, Pak Saidi berkata, "Lapor ke BP!" Saya semakin tertunduk lemas. Nggak berani memandangi punggung Pak Saidi yang berjalan keluar meninggalkan kelas.

Menemui guru BP bukanlah kasus mudah. Kedua guru BP di SMA terkenal judes. Terlebih lagi, mereka kenal baik dengan keluarga saya. Salah satunya adalah Bu Siawati. Di luar sekolah saya biasa memanggil Bude Sia, suami Bude Sia adalah Pakde Giarto, temen deket Bapak. Anak-anaknya Bude Sia adalah Mbak Ria (satu SMP dengan saya, tapi setahun lebih tua), Mbak Aar (satu SMP juga, tapi setahun lebih muda), dan Mas Ivan (partner in crime-nya Dek Bryan). Sementara guru BP yang satu lagi adalah Bu Sri Mahyuni. Yang rumahnya nggak jauh dari rumah saya. Lebih baik saya pergi manjat pohon kelapa daripada harus menemui kedua guru BP tersebut.

Namun saya harus kesana. Keberanian untuk memasuki ruang BP baru muncul sehari setelah kejadian di kelas geografi. Setelah diberi dukungan moral dan spiritual dari ketiga temen deket saya, Nelly, Rica, dan Santy. Saya ketok deh pintu ruang BP.

Ternyata hanya ada Bu Sri Mahyuni. "Kenapa Sep?" begitu sambutnya. Saya hanya membalas dengan nyengir kuda. Bu Sri sepertinya sedang menuliskan sesuatu di buku catatannya, lalu saya duduk di kursi rotan di depan mejanya. Lagi-lagi saya diam.

Sepertinya Bu Sri udah tau perihal tindak kejahatan saya kemarin. Melihat saya yang diam saja, Bu Sri menutup catatannya pelan-pelan, lalu bilang kurang lebih begini, "Ya sudah, besok-besok jangan baca majalah waktu guru mengajar di kelas." Saya lalu disuruh kembali lagi ke kelas. Aaaaah. Lutut saya terasa lemas sewaktu mau berdiri dari kursi rotan itu.

Setelah bilang terima kasih dan membungkukkan badan, saya keluar ruangan BP dengan hati yang lega. Rasanya dunia menjadi cerah seperti sedia kala. Saya kira saya harus membawa surat teguran untuk orang tua di rumah. Tapi ternyata tidak. Oooh bahagianya.

Selanjutnya yang harus saya lakukan adalah meminta maaf kepada pemilik majalah, membeli majalah edisi yang sama sebagai ganti, lalu bisa tertawa-tawa di kantin kembali.

Ehm, saya nggak tau kapan Bapak Ibu mendengar perihal tindak kejahatan saya ini. Suatu malem, saya sekeluarga berkunjung ke rumahnya Bude Sia. Itu adalah kali pertama saya berkunjung ke rumahnya setelah tragedi majalah valentine. Kikuk. Saya nempel-nempel terus di belakang Ibu, padahal biasanya saya asyik aja maen sama Mbak Ria dan Mbak Aar. Saya was-was kalau saja Bude Sia bakal membongkar kejahatan saya kepada Ibu Bapak saat saya nggak disana. Tapi ternyata, Ibu Bapak, Bude Sia, dan Pakde Giarto malah membahas masalah itu sambil ketawa-ketawa di depan saya! Ngeledek saya! Ohmaigad! Rasanya pengen menghilang langsung ke kamar Mbak Ria dan Mbak Aar..

Wednesday, September 14, 2011

Imunisasi

Pemberian anti-cacar, anti-TBC, anti-hepatitis, anti-polio, dan lainnya adalah salah satu program pemerintah dalam rangka mengurangi risiko balita atau dewasa terkena berbagai macam penyakit. Ehe, imunisasi namanya. Saya nggak tau secara detil, kapan waktu yang tepat untuk imunisasi. Hihihi. Maklum, saya belum pernah mengurusi balita, atau belum memiliki pengetahuan yang baik waktu dulu pernah menemani Ibu ke posyandu untuk mengimunisasi Dek Bryan. Seinget saya, sampai kurang lebih kelas 2 atau 3 sekolah dasar, saya masih dapet imunisasi.

Waktu itu kelas 1 SD. Saya masih inget, pertama kali masuk sekolah sepatu saya berwarna merah cerah. Lalu Bu Katin, guru kelas 1 SD, menghampiri saya sewaktu istirahat. Dengan nada keibuan, Bu Katin memberi tahu, kalau ke sekolah saya sebaiknya memakai sepatu berwarna hitam. Bukan apa-apa, waktu itu Ibu saya memakaikan sepatu berwarna merah karena sepatu-sepatu sekolah yang berwarna hitam nggak ada satupun yang pas di kaki saya. Saya terlalu mungil!

Di usia yang belum cukup lima tahun saya sudah menginjak bangku sekolah dasar lho. Itu karena saya nggak mau masuk TK. Kata Ibu, dulu saya ngotot pengen masuk SD karena TK menurut saya adalah sekolah buat anak-anak yang kerjaannya cuman menyanyi dan menggambar! Ebuset. Mungkin saya dulu pengen sekolah yang langsung bisa merakit bom kali yak. Alhasil, kelas satu sekolah dasar sebenernya saya sekedar dititipkan, betah syukur, nggak betah ya udah. Eh, ternyata dapet rapor, lalu ikut naik ke kelas dua. Alhamdulillah yah, sesuatu sekali.

Kelas satu SD, pertama kalinya mendapatkan imunisasi selama di bangku sekolah. Salah satu temen saya, perempuan, namanya Vandu Irawati. Panggilannya Pandu. Saat kami satu persatu menunggu dipanggil untuk diimunisasi, Pandu udah kelihatan 'bingsal'. Nggak mau diam. Mukanya kelihatan seperti mau nangis dan pengen pulang. Namun semua siswa berada di bawah pandangan Bu Katin yang berbadan gede, jadi nggak bakalan bisa kabur deh. Hehehe.

Tiba giliran Pandu. Eh, dia lari! Beneran lari sambil menangis, nggak mau diimunisasi. Padahal cuman ditetesin cairan doang ke dalem mulut looh! Belakangan saya malah ketagihan. Hihihi. Pandu kecil lari-lari ke kelas sebelah yang kosong (saya lupa kenapa kelas sebelah kosong), bersembunyi di bawah meja sambil terisak-isak. Saat Bu Katin mendatangi dan membujuk Pandu untuk diimunisasi, Pandu tetep memegangi kaki meja, bener-bener nggak mau.

Beberapa menit dibujuk, akhirnya Pandu mau diimunisasi. Horeee. Setelah diimunisasi, saya, Pandu, dan temen-temen lainnya bermain rumah-rumahan di koridor kelas bersama. Seolah-olah tragedi menangis di bawah kolong meja nggak pernah terjadi.

Pandu oh Pandu..

Selain inget sekelumit cerita masa kecil dulu tentang imunisasi, ada beberapa potongan-potongan cerita tentang Pandu yang saya inget.

Kelas empat SD. Waktu itu saya dan beberapa temen sedang bermain di rumahnya Pandu. Ada pohon rambutan yang lumayan rimbun di depan rumahnya. Enak deh, main rumah-rumahan di bawah pohon rambutan yang waktu itu sedang berbuah. Pandu emang terkenal gemar memanjat pohon. Ehe, jangan disamakan sama temen kalian yang hobi bergelantung ria itu ya. Waktu itu dia asyik memanjat pohon, sementara saya dan temen-temen lain tetep di bawah. Beberapa ranting emang nggak terlalu kokoh. Meskipun kami udah beberapa kali mengingatkan Pandu untuk tidak terlalu jauh mengambil rambutan, dia masih saja memanjat, hingga ke ujung-ujung ranting pohon. Kasian Pandu, akibat bertumpu pada ranting yang nggak terlalu kokoh, dia terjatuh dari ketinggian sekitar 4-5 meter. Posisi jatuhnya mengakibatkan persendian di tangan kanannya bergeser. Tulang tangan di sekitar bawah siku juga retak.

Untuk beberapa bulan lamanya, Pandu bersekolah dengan tangan kanan yang digendong, lalu diperban, lalu lama kelamaan dibuka. Terlihat biru lebam ketika dibuka. Tangan kanan dan kirinya nggak terlihat sama. Daerah sekitar siku kanan terlihat lebih membengkak, dan hanya bisa digerakkan pelan-pelan. Selama tidak bisa menggunakan tangan kanan, Pandu tetep berusaha menulis. Dia belajar menulis dengan tangan kiri. Dia juga tetep ceria seperti Pandu biasanya.

Kelas lima SD adalah saat dimana kami mulai diajarkan untuk menabung. Guru kelas lima mengkoordinir para siswa dalam membuatkan buku yang pura-puranya jadi buku tabungan. Uang yang disetorkan ke guru kelas dicatat di 'buku tabungan' kami, lalu setelah dikumpulkan, guru kelas mendepositokan sendiri uang para siswa ke bank. Saya dulu juga rutin menabung. Nggak gede tentunya. Uang saku saya di kelas lima waktu itu adalah lima ratus rupiah perhari. Waktu itu harga pisang goreng masih 25 atau 50 rupiah (lupa). Kalau tiba waktu menabung, biasanya setiap dua hari sekali, Ibu akan memberi saya uang seribu rupiah. Lima ratus untuk ditabung, lima ratus lagi buat jajan, tetep. Hehehe. Tapi sebagai anak yang rajin dan berbakti kepada orang tua, terkadang saya mengumpulkan sisa uang jajan harian saya untuk ditabungkan juga.

Jujur, dulu saya sering ciut tiap kali lihat buku tabungannya Pandu. Gimana enggak, uang yang ditabungkan Pandu setiap kali menabung setara dengan uang yang saya tabungkan selama sepuluh kali menabung! Nggak tanggung-tanggung, dia menyetor sekitar lima ribu rupiah tiap kali menabung. Ngiler deh. Nggak heran, di akhir tahun ajaran, Pandulah juaranya! Dia memiliki tabungan terbanyak dibandingkan siswa-siswi lainnya di kelas. Selamat yaaaa.

6 tahun di SD sekelas sama Pandu. SMP dan SMA nggak satu sekolah. Lalu kini udah jarang mendengar kabarnya. Miss you much, Ndu..

Ps: Abis dibaca ulang, judulnya kayaknya kurang pantes ya. Hihihi.

Gerak Jalan

Entah kenapa tiba-tiba pemandangan waktu saya masih muda dulu (bukan berarti sekarang udah tua ya) terputar kembali. Seperti potongan-potongan film yang lama kelamaan tersusun setelah menemukan kelanjutan cerita dan cerita sebelumnya. Ini juga yang membuat saya berniat menambahkan sebuah label baru di blog ini, nostalgia.

Kelas lima sekolah dasar. Saya hanya bisa melihat kebahagiaan teman-teman saya yang berjuang mengharumkan nama sekolah di lomba gerak jalan, dalam rangka memeriahkan ulang tahun kemerdekaan. Saya juga hanya bisa melihat dan berdecak kagum dalam hati, saat melihat piala kecil yang dibawa pulang ke sekolah. Kalau nggak salah, tim putri di SD saya menyabet juara harapan, lupa juara harapan satu atau tiga. Saat itu saya nggak berpartisipasi, mungkin karena tinggi saya yang emang nggak memadai (baca: mungil) atau karena waktu itu guru saya di sekolah dasar nggak tega membayangkan saya pingsan kalo diikutsertakan ke dalam lomba. Aaah, iri sekali.

Kelas enam sekolah dasar adalah pertama kalinya saya mengikuti gerak jalan. Menempati posisi paling belakang dan di tengah (tentu saja). Saya cukup bangga karena bisa ikut lomba. Setidaknya akan banyak warga yang melihat saya di dalam barisan ketika melintasi wilayah ramai penduduk. Yah, walaupun sedikit kecewa juga karena punggung saya harus ditempelin nomor regu. Uuh, nggak keren sekali. Kalau nggak salah, waktu itu tim putri sekolah saya tidak berhasil memperoleh juara maupun hadiah. Kalah.

Semangat mengikuti gerak jalan terpatri terus dalam jiwa saya hingga.....kelas 1 SMA. Namun selama itu, hanya pengalaman sewaktu menjadi komandan pasukan di kelas 3 SMP saja yang paling berkesan.

Kelas 1 SMP, lagi-lagi saya ditempatkan di barisan paling belakang dan di tengah. Kelas 2 SMP saya berada di barisan nomor dua dari belakang, terima kasih buat adik-adik kelas 1 SMP yang memiliki badan lebih mungil dari saya. 

Mungkin karena saya cukup berprestasi di kegiatan ekstrakurikuler pramuka, kelas 3 SMP saya dipercaya menjadi komandan tim putri di lomba gerak jalan waktu itu. Saat itu adalah hari ulang tahun Indonesia yang ke-56. (kok inget banget Mbak?) yah pan udah dibilang, gerak jalan kelas 3 SMP yang paling berkesan.

Waktu itu, tim yang saya pimpin menyabet juara pertama di tingkat kecamatan. What a great achievement! :D

Empat buah tim dari sekolah saya yang dipersiapkan untuk mengikuti gerak jalan. Dua tim putri, dua tim putra. Baik tim putri maupun tim putra dibagi menjadi dua, yang satu adalah tim senior, satu lagi tim junior. Saya memimpin tim senior putri. Anggotanya mayoritas siswi kelas 3 SMP, serta beberapa siswi kelas 1 dan 2 SMP yang berbadan tinggi. Hmm, rada nggak pede juga karena di barisan paling depan saya sebaris sama 3 siswi yang tinggi-tinggi. Sebelah kiri saya adalah Rica Nanita. Tiga tahun menjadi 'saingan' saya memperebutkan juara pertama di kelas. Dulu saya sempet kurang 'sreg' sama Mbak Rica ini, tapi siapa sangka, mulai SMA hingga sekarang saya menjadi akreb sama Mbak Rica.

Mau tau kenapa tim saya menjadi juara? Selain kompak, tim saya memiliki beberapa variasi andalan. Boleh dicontek deh, siapa tau sepupu atau keponakan kalian sedang bersekolah dan tahun depan berminat mengikuti lomba gerak jalan. Hihihi.

Variasi andalan adalah variasi go-go! Tau Project-Pop? Tau juga dong sama lagunya Tu-Wa-Ga-Pat? Hmm. Berkat kerjasama tim yang solid sejak dua minggu sebelum lomba, lagunya Project-Pop ini dikemas menjadi variasi andalan tim. Saya cukup memberikan komando, "Variasi Go-Go, mulai!" Tapi harus inget, kata mulai diucapkan cepat (seperti mengucapkan satu suku kata), pas pada saat kaki kanan melangkah. Lalu barisan akan berjalan zig-zag 3 langkah sambil meneriakkan "Pi-yo-pi, pi-yo-pi, pi-yo-pi, go! go!" dengan suara khas Project-Pop. Kanan-tutup-kiri-tutup-kanan-brenti (sambil memutarkan telunjuk kanan di samping pelipis kanan). Berhenti sambil meneriakkan "Go! Go!" sambil mengepalkan tangan kanan ke atas. Nggak kebayang bangganya saya dan temen-temen di tim dengan variasi yang kami ciptakan ini. Sampai beberapa hari kemudian, lagu Project-Pop ini menjadi trending topic di kalangan para pelajar di kecamatan.

Variasi kedua diciptakan oleh Bapak pelatih tim gerak jalan di sekolah saya. Bapak Rinantoko (alm.). Tahun itu adalah ulang tahun Indonesia yang ke-56. Pak Rin menambahkan sebuah variasi, namanya variasi Lima-Enam. Saya cukup memberikan aba-aba, "Lima-Enam, mulai!" Lalu para anggota tim meneriakkan "Dirgahayu! Indonesia! Merdeka! Merdeka!" tanpa melakukan gerakan kaki yang signifikan. Variasi ini dipake supaya tim bisa terus berjalan maju jika ada tim lain di belakang yang sudah semakin mendekat, jadi nggak ketabrak karena variasi ini nggak memperlambat jalannya tim. Terima kasih sekali buat Pak Rin.

Menyandang nama baik sebagai komandan pasukan gerak jalan SMP dengan variasi yang bisa menjadi trending topic, di kelas 1 SMA saya dicalonkan lagi menjadi komandan pasukan. Awalnya saya males. Ogah banget. SMA gitu lho. Tapi akhirnya saya tetep maju. Ternyata mengomandani tim baru saya kali ini jauh lebih susah. Kurang kompak. Pokoknya banyak yang kurang. Alhasil, nggak menang.

Cukup banyak kesan mengikuti gerak jalan. Nggak semua siswa mau ikut serta di lomba ini lho. Keringat bercucuran dari ujung kepala sampai ujung kaki. Punggung dan ketiak basah kuyup. Ketiak dan selangkanan kaki lecet karena latihan udah dimulai sejak sekitar dua minggu sebelum lomba. Alas sepatu menipis. Dan tentunya sebagai komandan, suara jadi serak, kering, parau, bahkan sakit di detik-detik terakhir lomba. Tapi di kacamata saya, gerak jalan memiliki banyak sekali cerita yang menarik untuk diingat kembali.